Suku Sambas (Melayu Sambas) adalah suku bangsa atau etnoreligius Muslim yang berbudaya melayu, berbahasa Melayu dan menempati sebagian besar wilayah Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, Kota Singkawang dan sebagian kecil Kabupaten Pontianak- Kalimantan Barat. Suku Melayu Sambas terkadang juga disebut Suku Sambas, tetapi penamaan tersebut jarang digunakan oleh masyarakat setempat.
Secara liguistik Suku Sambas merupakan bagian dari rumpun Suku Dayak, khususnya dayak Melayik yang dituturkan oleh 3 suku Dayak : Dayak Meratus/Bukit (alias Banjar arkhais yang digolongkan bahasa Melayu), Dayak Iban dan Dayak Kendayan (Kanayatn). Tidak termasuk Banjar, Berau, Kedayan (Brunei), Senganan, Sambas
yang dianggap berbudaya Melayu. Sekarang beberapa suku berbudaya Melayu
yang sekarang telah bergabung dalam suku Dayak adalah Kutai, Tidung dan
Bulungan (keduanya rumpun Borneo Utara) serta Paser (rumpun Barito
Raya).
Pada awalnya Sambas bukanlah nama suku, akan tetapi nama tempat/wilayah
dan nama Kerajaan yang berada tepat di pertemuan 3 sungai yaitu sungai
Sambas Kecil, sungai Subah dan sungai Teberau yang lebih dikenal dengan
Muara Ulakan. Seluruh masyarakat asli Kalimantan sendiri sebenarnya
adalah Serumpun, Antara Ngaju, Maanyan, Iban, Kenyah, Kayatn, Kutai (
Lawangan - Tonyoi - Benuaq ), Banjar ( Ngaju, Iban , maanyan, dll ),
Tidung, Paser, dan lainnya. Hanya saja Permasalahan Politik Penguasa dan
Agama menjadi jurang pemisah antara keluarga besar ini. Mereka yang
meninggalkan kepercayaan lama akhirnya meninggalkan adatnya karena lebih
menerima kepercayaan baru dan berevolusi menjadi Masyarakat Melayu
Muda. Khususnya dalam Islam maupun Nasrani,
hal - hal adat yang bertolak belakang dengan ajaran akan ditinggalkan.
Sedangkan yang tetap teguh dengan kepercayaan lama disebut dengan Dayak.
Adat-istiadat lama Suku Melayu Sambas banyak kesamaan dengan
adat-istiadat Suku Dayak rumpun Melayik misalnya; tumpang 1000, tepung
tawar, dan lainnya yang bernuansa Hindu.
Secara administratif, Suku Sambas merupakan suku baru yang muncul dalam sensus tahun 2000 dan merupakan 12% dari penduduk Kalimantan Barat, sebelumnya suku Sambas tergabung ke dalam suku Melayu
pada sensus 1930. Sehubungan dengan hal tersebut kemungkinan "Dialek
Melayu Sambas" meningkat statusnya dari sebuah dialek menjadi bahasa
kesukuan yaitu Bahasa Suku Sambas.
Perubahan Suku Sambas secara drastis setelah masuk Islam, hampir
menghapus jejak asal muasalnya yaitu Suku asli yang mendiami pulau
Kalimantan. Kebudayaan Melayu yang dianggap lebih "beradab", membantu
menghilangkan budaya Dayak pada Suku Sambas dengan cepat. Sehingga
Sambas yang dahulunya beragama Hindu Kaharingan kehilangan jejak
Kaharingan, walaupun sebagian kecil ada yang tersisa. Akibatnya orang
lebih yakin Sambas adalah Melayu, padahal tidaklah demikian. Tentu saja
segala hal dalam adat lawas dianggap syirik (bertentangan dengan agama)
jadi harus dimusnahkan dan ditinggalkan.
Sulitnya data semakin mempersulit para peneliti untuk mencari jejak asal
muasal Suku Sambas. Membuat hasil penelitian terlihat ambigu bahkan
samar. Peneliti seringkali mengklasifikasikan berdasarkan bahasa,
sedangkan menurut orang Kutai dan Tunjung-Benuaq mengenal tradisi lisan
yang mengklasifikasikan golongan berdasarkan budaya dan sejarah
budayanya serta geneologi. Oleh karena itulah Suku Sambas
diklasifikasikan ke dalam suku Dayak berbudaya Melayu.
Namun, berdasarkan kajian dengan pendekatan sejarah, asal usul
masyarakat yang sekarang disebut Melayu Sambas adalah hasil asimilasi
beberapa suku bangsa di Nusantara yaitu yang sekarang disebut Melayu
Sambas adalah asimilasi dari Orang Melayu (yang datang dari Sumatera
sekitar abad ke-5 M hingga 9 M pada masa Kerajaan Malayu atau masa awal
Kerajaan Sriwijaya), Orang Dayak (penduduk lebih awal yang secara turun
temurun sebelumnya telah mendiami Sungai Sambas dan percabangannya),
Orang Jawa (yaitu serombongan besar Bangsawan Majapahit keturunan
Wikramawardhana bersama para pengukutnya yang melarikan diri secara
boyongan dari Majapahit karena perang sesama Bangsawan di Majapahit pada
awal abad ke-15 M yang kemudian mendirikan sebuah Panembahan di wilayah
Sungai Sambas) serta Orang Bugis (para Nakhoda dan pembuat kapal
bersama keluarganya dari Sulawesi yang kemudian membentuk sebuah
perkampungan Bugis yang bekerja untuk Sultan-Sultan Sambas di masa awal
dan pertengahan Kesultanan Sambas).
Masyarakat Melayu Sambas secara Budaya dan Intelektual adalah yang
terkemuka di Kalimantan Barat, beberapa budaya Melayu Sambas yang masih
populer di kalangan Masyarakat Kalimantan Barat dari dulu (masa
Kerajaan) hingga sekarang diantaranya adalah Kain Khas yaitu yang
disebut Kain Sambas / Kaing Lunggi / Kain Songket Sambas, Makanan Khas
yang disebut Bubbor Paddas / Bubur Pedas (dengan khas menggunakan daun
Kesum / daun Kesuma), Lagu-Lagu Daerah Sambas (dari masa lampau /
Kerajaan) sangat mendominasi khazanah lagu-lagu daerah di Kalbar hingga
sekarang disamping Lagu-lagu daerah Dayak dan banyak lagu-lagu daearah
Sambas itu adalah berstatus anonim yang tidak diketahui siapa pembuatnya
karena sudah begitu lama yang dilantunkan secara turun temurun dari
generasi ke generasi seperti Lagu Alok Galing, Cik cik Periuk, Kapal
Belon dan lainnya, Tarian Daerah Khas Sambas seperti Tandak Sambas,
Jepin dan lainnya.
Pada masa Kerajaan (Kesultanan Sambas) masyarakat Melayu Sambas juga
terkenal sangat Agamis (Islam) yang paling terkemuka di Kalimantan Barat
sehingga sempat disebut sebagai "Serambi Makkah" Kalimantan Barat. Pada
masa Kerajaan, Ulama-Ulama Islam dari Kesultanan Sambas sangat
terkemuka dibanding Kerajan-Kerajaan lainnya di Kalimantan Barat ini,
bahkan Ulama-Ulama Islam dari Kesultanan Sambas telah ada yang
berkaliber Internasional misalnya pada abad ke-19 M ada Ulama Kesultanan
Sambas yang bernama Shekh Khatib Achmad As Sambasi yang menjadi Ulama
di Makkah Al Mukarramah dan menjadi Pemimpin Ulama-Ulama Nusantara yang
menuntut Ilmu Agama di Makkah dengan gelar Shekh Sharif Kamil Mukammil.
Kemudian pada abad ke-20 M ada Ulama Kesultanan Sambas bernama Shekh
Muhammad Basuni Imran (Mufti Kesultanan Sambas) yang adalah lulusan Al
Azhar kairo, Mesir yang terkenal di Timur Tengah karena suratnya kepada
Mufti Mesir yang berjudul "Mengapa Umat Islam saat ini Mengalami
Kemunduran". Jejak kejayaan Islam di Sambas itu yang masih nampak pada
sekitar tahun 80-an dimana Qori-qori dari Sambas cukup mendominasi dalam
mewakili Kalimantan Barat di tingkat Nasional dan Internasional.
Sedangkan di masa Kerajaan, Kesultanan Sambas adalah sebuah Kerajaan
Maritim (Pesisir) yang sempat menjadi Kerajaan terbesar di wilayah
Borneo Barat (Kalimantan Barat) selama sekitar 100 tahun (dari awal
tahun 1700-an hingga awal tahun 1800-an). Urutan Kerajaan-Kerajaan
terbesar di Kalimantan Barat dari awal adalah Kerajaan Tanjung Pura yang
setelah runtuh dilanjutkan oleh Kesultanan Sukadana, lalu ketika
Kesultanan Sukadana melemah posisi Kerajaan terbesar di Kalimantan Barat
itu beralih dipegang oleh Kesultanan Sambas yang kemudian setelah
masuknya Belanda ke wilayah Kalimantan Barat pada tahun 1818 posisi
Kerajaan terbesar di Kalimantan Barat beralih dipegang oleh Kesultanan
Pontianak. Kesultanan Sambas berdiri pada tahun 1671 M yang kemudian
memerintah selama sekitar 279 tahun melalui Pemerintahan 15
Sultan-Sultan Sambas dan 2 Ketua Majelis Kesultanan Sambas secara turun
temurun hingga kemudian berakhirnya Pemerintahan Kesultanan Sambas
dengan bergabung ke dalam Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tahun
1950.
Kabupaten Sambas terkenal dengan sebuah peninggalan sejarah yaitu sebuah keraton peninggalan Kesultanan Sambas.
Penduduknya mayoritas melayu, dan berbahasa melayu. Sebagian besar
bahasa yang digunakan adalah sama. Bahasa Melayu sangat mudah dipahami,
apalagi bagi orang yang mendengar orang Betawi berbicara, karena kurang
lebih bahasa Betawi
dan Melayu sama, misalnya: Seseorang berbicara, "Kamu mau ke mana?",
jika dalam bahasa melayu "Kau nak ke mane", (penyebutan "e" dalam bahasa
melayu, sedangkan bahasa suku Sambas membunyikan "e" seperti bunyi pada
kata "lele". Keunikan lain dari bahasa Melayu Sambas adalah pengucapan
huruf ganda seperti dalam Bahasa [Melayu] Berau di Kalimantan Timur, seperti pada kata 'bassar' (artinya besar dalam bahasa indonesia).
Kamis, 12 Desember 2013
Rabu, 04 Desember 2013
Panorama Gua Alam Santok
Panorama Gua Alam Santok
Terletak kurang lebih dari Kab.
Sambas di Kecamatan Sajingan Besar. Terdapat Patung Bunda Maria yang dulunya
digunakan untuk tempat meditasi dan sembahyang. Tempat tersebut masih dianggap
tempat yang sacral (suci) oleh masyarakat local di samping pemandangannya indah
da menarik.
Wisata ini Terletak ± 85 Km dari
pusat Kota Sambas, goa alam Santok berada di Kecamatan Sajingan Besar. Untuk
sampai ke tempat tujuan kita menempuh waktu perjalanan lamanya sekitar 3 jam,.
Di dalam waktu perjalanan kita bisa menikmati pemandangan yang indah, dan
melihat kehidupan sehari-hari masyarakat Sajingan Besar. Di dalam goa alam
santok ini terdapat Patung Bunda Maria yang dulunya digunakan untuk tempat meditasi
dan sembahyang masih dianggap tempat yang sacral (suci) oleh masyarakat local
disamping pemandangannya indah dan menarik goa alam santok ini memilik beberapa
keindahan lainnya bisa di rasakan oleh pengunjung sendiri.
Pantai Tanjung Kemuning
Pantai Tanjung Kemuning
Pantai Tanjung Kemuning merupakan
objek wisata yang terletak di kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. Pantai ini
berhadapan dengan Laut Natuna. Panjang pantai ini lebih kurang 18
kilometer.Yang menarik dari keadaan di pantai ini adalah masyarakat desa
bahu-membahu menangkar penyu.
Setiap malam penyu kepantai untuk bertelur, di
saat itulah masyarakat mengambil telur untuk dimasukkan ke penangkaran. Hal ini
dilakukan agar penyu-penyu tidak musnah akibat para pemburu telur penyu.
Pantai Tanah Hitam
Pantai Tanah Hitam
Tanah Hitam merupakan salah satu
desa yang terdapat di kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. Ia merupakan desa yang
tidak jauh dari pesisir pantai. Kecamatan Paloh ini merupakan kecamatan pantai
yang berada di Kabupaten Sambas dan terletak di wilayah perbatasan dengan
Negara Malaysia Timur (Serawak) dengan luas wilayah ± 1.697,30 H.
Untuk desa Tanah Hitam ini bisa di capai menggunakan kendaraan bermotor seperti sepeda motor maupun mobil. Akses jalan beraspal juga sudah tersedia untuk menjangkau desa ini. Jika perjalanan dari Pasar Sekura menuju Desa Tanah Hitam ini sekitar satu jam. Desa Tanah Hitam yang terletak dekat pesisir pantai ini ketika berada di jalan akan terdengar suara deburan ombak yang menyatu mesra dengan rintihan dedunan kelapa yang berbaris rapi menghias di sepanjang jalan. Untuk di desa Tanah Hitam ini mayoritas di huni oleh kaum tionghoa dimana terdapat juga Pasar Tanah Hitam yang menjadi tempat perekonomian masyarakat sana. Selain itu padi dan kelapa yang merupakan komoditi masyarakat sana, kacang kedelai juga menjadi komoditi handalan, kacang kedelai ini biasanya di tanam setelah musim panen padi selesai.
Untuk desa Tanah Hitam ini bisa di capai menggunakan kendaraan bermotor seperti sepeda motor maupun mobil. Akses jalan beraspal juga sudah tersedia untuk menjangkau desa ini. Jika perjalanan dari Pasar Sekura menuju Desa Tanah Hitam ini sekitar satu jam. Desa Tanah Hitam yang terletak dekat pesisir pantai ini ketika berada di jalan akan terdengar suara deburan ombak yang menyatu mesra dengan rintihan dedunan kelapa yang berbaris rapi menghias di sepanjang jalan. Untuk di desa Tanah Hitam ini mayoritas di huni oleh kaum tionghoa dimana terdapat juga Pasar Tanah Hitam yang menjadi tempat perekonomian masyarakat sana. Selain itu padi dan kelapa yang merupakan komoditi masyarakat sana, kacang kedelai juga menjadi komoditi handalan, kacang kedelai ini biasanya di tanam setelah musim panen padi selesai.
Selain sebagai penghasil komoditi
kelapa serta kacang kedelai, desa Tanah Hitam ini menyajikan pemandangan pantai
nya yang juga tidak kalah menarik. Sebut saja pantai Lestari dan Pantai Tanjung
Harapan. Kedua pantai ini berada di satu lokasi namun di bedakan oleh arah nya
saja, sebagai contoh untuk pantai Lestari ini arah nya ke arah Paloh sementara
pantai Tanjung Harapan ini arah nya ke arah Simpang atau berlawanan arah dengan
pantai Lestari. Dan untuk memasuki pantai Lestari ini terdapat gerbang dan
pasirnya menuju pantai Lestari ini bewarna putih dan sepanjang jalan ini di
hiasi oleh pohon cemara. Sementara untuk menuju pantai Tanjung Harapan ini di
sepanjang jalan nya melewati pepohonan kelapa yang menjulang tinggi dan
melewati beberapa pohon dengan ukuran nya yang besar.
Pada hari raya idul fitri maupun idul adha yaitu pada hari kedua atau ketiga biasanya banyak yang mengunjungi pantai Tanah Hitam, karena saat itu di adakan musik untuk menghibur rakyat, biasanya musik yang disuguhkan adalah musik dangdut dengan menghadirkan penyanyi - penyanyi dangdut asal kota Jakarta, sebut saja yang pernah hadir, Trio Macan, Nita Talia, artis KDI yang saya juga tidak tau siapa namanya, pokok nya banyak dah, kalo yang penikmat musik dangdut mungkin tau nama mereka, tapi saya kurang sreg aja dengan genre musik seperti itu (Selera Masing - Masing ).
Selain di datang kan nya artis - artis ibu kota Jakarta di setiap hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha ini, ada perayaan unik lain nya di desa Tanah Hitam ini, bukan di Desa Tanah Hitam saja sih sebenarnya, melainkan di desa Arung Parak juga perayaan ini juga ada. Perayaan itu adalah " Antar Ajong ". Antar Ajong ini adalah suatu adat istiadat masyarakat sana yaitu upacara ritual adat untuk menanam padi yang dilaksanakan setiap tahun pada masa bercocok tanam. Masyarakat setempat mempercayai, aktivitas tersebut dapat membuat tanaman padinya terhindar dari serangan hama dan penyakit. Sehingga demikian, hasil panen berlimpah untuk kemakmuran masyarakat sekampung. Sementara waktu pelaksanaan Antar Ajong ini biasanya setiap pertenggahan tahun, sekitar Juni atau Juli.
Pada hari raya idul fitri maupun idul adha yaitu pada hari kedua atau ketiga biasanya banyak yang mengunjungi pantai Tanah Hitam, karena saat itu di adakan musik untuk menghibur rakyat, biasanya musik yang disuguhkan adalah musik dangdut dengan menghadirkan penyanyi - penyanyi dangdut asal kota Jakarta, sebut saja yang pernah hadir, Trio Macan, Nita Talia, artis KDI yang saya juga tidak tau siapa namanya, pokok nya banyak dah, kalo yang penikmat musik dangdut mungkin tau nama mereka, tapi saya kurang sreg aja dengan genre musik seperti itu (Selera Masing - Masing ).
Selain di datang kan nya artis - artis ibu kota Jakarta di setiap hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha ini, ada perayaan unik lain nya di desa Tanah Hitam ini, bukan di Desa Tanah Hitam saja sih sebenarnya, melainkan di desa Arung Parak juga perayaan ini juga ada. Perayaan itu adalah " Antar Ajong ". Antar Ajong ini adalah suatu adat istiadat masyarakat sana yaitu upacara ritual adat untuk menanam padi yang dilaksanakan setiap tahun pada masa bercocok tanam. Masyarakat setempat mempercayai, aktivitas tersebut dapat membuat tanaman padinya terhindar dari serangan hama dan penyakit. Sehingga demikian, hasil panen berlimpah untuk kemakmuran masyarakat sekampung. Sementara waktu pelaksanaan Antar Ajong ini biasanya setiap pertenggahan tahun, sekitar Juni atau Juli.
Biasanya sebelum di adakan ritual
Antar Ajong ini, malam nya sebelum hari H, di adakan juga ritual - ritual lain
nya yang entah apa namanya, biasanya pembacaan doa - doa dan persiapan untuk
besok nya. Untuk ukuran badan perahu biasanya bervariasi dengan lebar 20 cm -
40 cm dan panjang 1,5 m - 4 m. Kain yang dibuat sebagai layarnya sering tampil
dalam berbagai warna tapi lebih didominasi oleh warna putih dan kuning. Badan
perahu diberi warna cat bebas dengan variasi gambar ukiran khas sambas.
Nah pada saat acara pelepasan, beberapa orang yang di tunjuk memegang perahu tersebut dan membawanya ke laut dan menghanyutkan nya. Ritual adat ini berlansung setiap satu tahun sekali. Biasanya ritual adat ini banyak menarik pengunjung dari berbagai tempat dan Antar Ajong ini merupakan ajang menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung ke kabupaten Sambas.
Mungkin ada yang tertarik untuk menyaksikan ritual adat ini bisa datang ke Sambas, kecamatan paloh pada khususnya. Dan hanya bisa melalui kendaraan darat bukan udara.
Nah pada saat acara pelepasan, beberapa orang yang di tunjuk memegang perahu tersebut dan membawanya ke laut dan menghanyutkan nya. Ritual adat ini berlansung setiap satu tahun sekali. Biasanya ritual adat ini banyak menarik pengunjung dari berbagai tempat dan Antar Ajong ini merupakan ajang menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung ke kabupaten Sambas.
Mungkin ada yang tertarik untuk menyaksikan ritual adat ini bisa datang ke Sambas, kecamatan paloh pada khususnya. Dan hanya bisa melalui kendaraan darat bukan udara.
Danau Sebedang
Danau Sebedang
Danau Sebedang merupakan salah satu
obyek wisata alam andalan Kabupaten Sambas dan Provinsi Kalimantan Barat.
Kawasan yang menjadi pintu gerbang masuk ke Kabupaten Sambas ini ramai
dikunjungi para wisatawan pada hari Minggu dan hari-hari libur lainnya.
Sebagian pengunjung yang datang tidak hanya berniat menikmati kepermaian
alamnya, tetapi ada juga yang menyalurkan hobi memancingnya, karena danau ini
merupakan rumah bagi banyak ikan. Konon, danau yang menjadi sumber air bersih
bagi penduduk beberapa kecamatan di Sambas dan juga menyimpan berbagai kekayaan
ekosistem ini, dahulunya merupakan salah satu tempat istirahat favorit bagi
para sultan Sambas beserta keluarga mereka.
Luas danaunya yang mencapai sekitar
satu kilometer persegi, dikelilingi oleh perbukitan yang memiliki ketinggian
sekitar 400 meter di atas permukaan laut (dpl), dan pemandangan alamnya yang
rancak dengan latar hutan tropis yang hijau dan lebat, menjadikan kawasan ini
tepat sekali dipilih sebagai salah satu tujuan rekreasi yang menyenangkan
bersama keluarga atau kolega.
Pengunjung dapat menikmati keindahan panorama alamnya dengan cara berjalan kaki mengelilingi danau, atau sambil minum-minum di kantin-kantin yang menghadap ke danau. Selain itu, keelokkan danau ini juga dapat dicerap pengunjung dengan bersantai di shelter-shelter yang tersedia, atau sambil duduk lesehan di atas tikar yang disewakan. Bila bosan, pengunjung dapat mengelilingi danau dengan menyewa perahu.
Pada sore hari, eksotisme kawasan Danau Sebedang kian tampak dan kian terasa. Bagi pengunjung yang mendatangi danau pada malam hari tidak perlu khawatir akan kesepian. Karena semakin malam, semakin banyak pengunjung yang datang. Dan, suasananya bertambah semarak dan hidup dengan iringan suara musik keras yang berasal dari kafe-kafe di kawasan tersebut. Danau Sebedang terletak di Desa Sebedang, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.
Kabupaten Sambas berjarak sekitar 202 kilometer dari Kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat. Dari Pontianak menuju Sambas, pengunjung dapat naik taksi, bus travel, bus, atau kendaraan pribadi.
Sedangkan dari pusat Kota Sambas,
objek wisata Danau Sebedang berjarak sekitar 18 kilometer. Jalan menuju Danau
Sebedang telah beraspal dengan halus dan dapat diakses dengan menggunakan bus
atau kendaraan pribadi.
Pengunjung tidak akan kelaparan jika berada di lokasi Danau Sebedang, karena di kawasan ini terdapat warung makan, kantin, dan kafe yang menyediakan berbagai menu makanan dan minuman.
Bagi pengunjung yang kemalaman dapat
menginap di losmen-losmen yang banyak terdapat di kawasan sekitar danau. Areal
camping ground yang luas dan aman dapat digunakan pengunjung yang berhasrat
menikmati suasana kawasan ini pada malam hari. Di sini, juga tersedia persewaan
tenda dan tikar, sehingga pengunjung tidak perlu repot-repot membawa
perlengkapan berkemah.
Keraton Sambas
Keraton Sambas
Istana Sambas yang ada sekarang,
dibangun oleh Sultan Muhammad Mulia Ibrahim tahun 1933, ditempati 6 juli 1935.
Biaya pembangunan Istana sambas sebesar 65. Golden, dari bantuan kredit Sultan
Kutai.Pembangunan dilaksanakan pemborong Tjin Nyuk dari Pontianak.Dengan luas
bangunan berukuran panjang 9,50 meter dan berukuran lebar 8,05 meter.
Ditepian Muara Ulakan simpang tiga
pertemuanSungai Sambas kecil, Sungai Subah, Sungai Teberau, sekarang di Desa
Dalam Kaum, Kecamatan sambas sejak dahulu telahberdiri Istana Kesultanan Sambas
(1632) didirikan oleh Raden Bima gelar Sultan Muhammad Tajuddin, Sultan Sambas
ke-2. Dipinggir sungai, terdapat sebuah tangga jembatan biasa disebut dengan
seteher, tempat singgahan sampan atau perahu dan kendaraan air yang banyak di
sungai Sambas.
Naik ke daratan di pinggir sungai, terdapat
jalan masuk ke halaman Istana. Sebelum masuk kita akan melalui sebuah gerbang
pintu masuk ke halaman Istana yang dinamakan gerbang Segi Delapan. Pintu masuk
gerbang bersegi delapan yang jauhnya dari pinggir sungai lebih kurang 30 meter.
Gerbang bersegi delapan bertingkat dua itu dahulu digunakan untuk :
Bagian bawah tempat penjaga dan
tempat istirahat rakyat yang berkunjung ke istana sebelum memasuku
halaman istana.Bagian atas untuk tmpat mengatur penjagaan dan apabila ada
keramaian dipergunakan untuk menabuh gamelan dan alat-alat kesenian. Arti dari
segi delapan adalah delapan penjuru mata angin, dan sebagai mengenang jasa
pendiri keraton yang ada sekarang adalah Sultan, Sultan Muhammad Syafiuddin II.
Atap bangunan segiempat sebagai simbul bagi Sultan mengikuti sifat Rasullulah
yakni : Siddiq (benar), Amanah (keprcayaan), Tabligh (menyampaikan) dan
Pathonah (sempurna). Setelahmelalui pintu grbang pertama, ditemukan sebuah
tiang bendera di tengah halaman, untuk menaikan bendera kesultanan yang berwarna
kuning emas setiap hari besar pada zaman dulu.
Tiang yang bertopang empat yang
berarti Sultan diabntu oleh empat orang pembantu yang disebut wazir. Dibawah
tiang bendera terdapat 3 buah meriam kuno hadiah dari tentara Inggris tahun
1813 menghargai kepahlawanan putera Pangeran Anom melawan inggris. Salah satu
disebut Si Gantar Alam. Disisnilah seorang pejuang bernama Thabrani Akhmad
telah gugur ditembus peluru penjajah Belanda karena membela mempertahankan
bendera merah putih.
Dan diabadikan dengan monumen baru ”
Di tempat ini tanggal 27 Oktober 1945 telah gugur seorang pejuang kemerdekaan
disaat akanmengibarkan bendera merah putih”. Disamping kiri masuk, tidak jauh
dari tiang bendera terdapat pohon kayu putih, untuk mengenang peristiwa selesai
perang Sungkung pada tahun 1883. Ditanam atas perintah sultan dan Pangima Daud
dan Panglima Bakar.
Langganan:
Postingan (Atom)



